Jumat, 18 November 2016

Macam-macam tes

                  A.    PENDAHULUAN

                               I.            Latar belakang
Pendidikan merupakan salah satu sarana peningkat kualitas hidup manusia. Lembaga pendidikan, sekolah misalnya memegang peranan yang cukup penting dalam proses pendidikan.
Tugas komplek seorang guru adalah melaksanakan kegiatan belajar mengajar, membimbing siswa-siswinya dan juga melakukan pengujian atau yang sering kita sebut dengan nama tes.
Seorang guru juga merupakan seorang adsministstor, evaluator, konselator bagi penunjang kegiatan edukasi murid-muridnya.
            Diantara tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah merencanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan dan menilai hasil belajar. Kemampuan guru dalam memilih dan menyusun instrumen penilaian yang sesuai dengan tujuan penilaian, mengolah dan menafsirkan hasil penilaian akan sangat berpengaruh terhadap kualitas data hasil penilaian sebagai dasar pengambil keputusan.
Diantara semua penilaian adalah melalui pengujian atau tes sebagai patokan menentukan penilaian.

                            II.            Pembahasan singkat
Kegiatan penilaian hasil belajar memerlukan instrumen untuk mengukur hasil belajar yang akan dinilai. Instrumen tersebut dapat dibedakan menjadi instrumen tes dan non tes.Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar, khususnya aspek pengetahuan. Berdasarkan sistem penskorannya tes dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes subjektif. Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi karakteristik suatu objek Dalam pembelajaran objek ini bisa berupa pengetahuan maupun keterampilan siswa.

                 B.     PEMBAHASAN

a.       Pengertian tes
Secara harfiah, kata “tes” berasal dari bahasa Perancis Kuno: testum dengan arti: “piring untuk menyisihkan logam-logam mulia” (maksudnya dengan menggunakan alat berupa piring itu akan dapat diperoleh jenis-jenis logam mulia yang nilainya sangat tinggi) dalam bahasa Inggris ditulis dengan test yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “tes”, “ujian” atau “percobaan”. Dalam bahasa Arab: Imtihan.
Ada beberapa istilah yang memerlukan penjelasan sehubungan dengan uraian di atas, yaitu : test adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian; testing berarti saat dilaksanakannya atau peristiwa berlangsungnya pengukuran dan penilaian; tester artinya orang yang melaksanakan tes, atau pembuat tes, atau eksperimentor, yaitu orang yang sedang melakukan percobaan (eksperimen); sedangkan testee (mufrad) dan testees (jamak) adalah pihak yang dikenai tes (=peserta tes = peserta ujian), atau pihak yang sedang dikenai pekerjaan (= tercoba).
Adapun dari segi istilah, menurut Anne Anastasi dalam karya tulisnya berjudul Psychological testing, yang dimaksud dengan tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang obyektif sehingga dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu. Adapun menurut Lee J. Cronbach dalam bukunya berjudul Essential of Psychological Testing, tes merupakan suatu prosedur yang sistematis untuk membandingkan tingkah laku dua orang atau lebih. Sedangkan menurut F.L. Goodenough, tes adalah suatu tugas atau serangkaian tugas yang diberikan kepada individu atau sekelompok individu, dengan maksud untuk membandingkan kecakapan mereka, satu dengan yang lainnya. Dan menurut Grounland (1968) mengatakan bahwa, “An achievement test is a systematic procedure for determining the amount a student has learned”.
Dari definisi-definisi di atas kiranya dapat dipahami bahwa dalam dunia evaluasi pendidikan, yang dimaksud dengan tes adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian di bidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaan-pertanyaan (yang harus dijawab), atau perintah-perintah (yang harus dikerjakan) oleh testee, sehingga (atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut) dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee.
b.      Pengertian non-tes
.                 Teknik non tes: yaitu teknik evaluasi yang tidak menggunakan perangkat soal yang harus dikerjakan oleh siswa. Yang termasuk teknik non-tes seperti:
a.       Skala bertingkat (Rating Scale)
b.      Kuesioner (Questionaire)
c.       Daftar cocok (Check List)
d.      Wawancara (Interview)
e.       Pengamatan (Observation)
f.       Pemeriksaan dokumen (Documentary Analysis)
g.      Riwayat hidup
h.      Skala sikap


c.       Tujuan tes
Evaluasi dengan menggunakan teknik tes bertujuan untuk mengetahui, yaitu:
·         Tingkat kemampuan awal siswa
·         Hasi belajar siswa
·         Perkembangan prestasi siswa
·         Keberhasilan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
·         Kemampuan memecahkan masalah
·         Proses berpikir terutama melihat hubungan sebab akibat

·         Kemampuan menggunakan bahasa lisan

d.      Pengklasifikasian tes
Tes dapat diklasifikasikan berdasarkan :
a.       Bagaimana ia diadmistrasikan (tes individual atau kelompok)
b.      Bagaimana ia diskor (tes obyektif atau tes subyektif)
c.       Respon apa yang ditekankan (tes kecepatan atau tes kemampuan)
d.      Tipe respon yang bagaimana yang harus dikerjakan oleh subyek (tes unjuk kerja atau kertas dan pensil)
e.       Apa yang akan diukur (tes sampel atau tes sign)
f.       Hakekat dari kelompok yang akan diperbandingkan (tes buatan guru atau tes baku).


e.       Etika tes
Kegiatan pengujian berperan sangat besar dalam sistem pendidikan dan sistem persekolahan.Karena pentingnya itu maka setiap tindakan pengujian selalu menimbulkan kritik yang tajam dari masyarakat. Kritik tersebut tidak jarang datang dari para ahli, disamping datang dari orang tua yang secara langsung atau tidak langsung berkepentingan terhadap pengujian. Diantara beberapa kritik tersebut ada beberapa yang harus menjadi perhatian sungguh- sungguh oleh para praktisi dan ahli tes, pengukuran dan evaluasi. Kritik tersebut antara lain:
1.      Tes senantiasa akan mencampuri rahasia pribadi peserta tes. Setiap tes berusaha mengetahui pengetahuan dan kemampuan setiap peserta tes, yang dapat berarti membuka kelemahan dan kekuatan pribadi seseorang. Didalam masyarakat yang sangat melindungi akan hak dan rahasia pribadi, masalah ini akan menjadi salah satu gugatan atau keluhan.
2.      Tes selalu menimbulkan rasa cemas peserta tes. Memang sampai batas tertentu rasa cemas itu dibutuhkan untuk dapat mencapai prestasi terbaik, tetapi tes terkadang menimbulkan rasa cemas yang tidak perlu, yang justru dapat menghambat seseorang mampu mendemonstrasikan kemampuannya.
3.      Tes acap kali justru menghukum peserta didik yang kreatif, karena itu selalu menuntut jawaban yang sudah ditentukan pola dan isinya, maka tentu saja hal itu tidak memberi ruang gerak yang cukup bagi anak yang kreatif.
4.      Tes selalu terikat pada kebudayaan tertentu. Tidak ada tes hasil belajar yang bebas budaya. Karena itu kemampuan peserta tes untuk memberi jawan terbaik turut ditentukan oleh kebudayaan penyusun tes.
5.      Tes hanya mengukur hasil belajar yang sederhana dan yang remeh. Hampir tidak pernah ada tes hasil belajar yang mampu mengungkapkan tingkah laku peserta didik secara menyeluruh, yang justru menjadi tujuan utama pendidikan formal apapun.


Tes berdasarkan sistem penskorannya :
Ø  Tes objektif
Pengertian tes objektif dalam hal ini adalah bentuk tes yang mengandung kemungkinanan jawaban atau respon yang harus dipilih oleh peserta tes. Jadi kemungkianan jawaban atau respon telah disediakan oleh penyususun butir soal. Secara umum  ada tiga tipe tes objektif  antara lain:
·         Tipe benar salah
Tipe benar salah adalah tes yang butir soalnya terdiri dari pernyataan yang disertai dengan alternatif  jawaban yaitu jawaban atau pernyataan yang benar dan yang salah. Biasanya jawabannya berupa benar atau salah dengan simbol “B” untuk pernyataan benar dan “S” untuk pernyataan yang salah. Siswa diminta untuk melingkari jawaban tersebut ataupun memeberi tanda silang pada jawaban tersesbut.
Contoh : B-S Kabupaten Sleman terletak di Provinsi Jawa Tengah
·         Tipe menjodohkan
Ada beberapa istilah yng digunakan untuk menunjukan tes menjodohkan (matching test), seperti memasangkan, atau mencocokan. Butir soal tipe menjodohkan ditulis dalam dua kolom atau kelompok. Kelompok pertama disebelah kiri adalah pertanyaan/pernyataan atau stem atau biasa juga disebut dengan premis. Kelompok kedua disebelah kanan adalah kelompok jawaban. Tugas peserta tes adalah menjodohkan kelompok pertanyaan dan kelompok jawaban.
Contoh :
Pasangkanlah pernyataan yang ada pada lajur kiri dengan pernyataan yang ada pada lajur kanan dengan cara menempatkan huruf  yang terdapat di muka pernyataan lajur kanan pada titik-titik yang disediakan pada lajur kiri.
1.      Ibu kota Provinsi Jawa Tengah.... a. Bandung
2.      Ibu kota Provinsi Jawa Barat....... b. Denpasar
3.      Ibu kota Provinsi Bali.................. c. Semarang
Cara menjawab soal diatas dapat ditulis lengkap nama kotanya pada titik-titik yang telah disediakan, misalnya:
1.      Ibu kota Provinsi Jawa Tengah : Semarang
2.      Ibu kota Provinsi Jawa Barat : Bandung
Tetapi dapat menulis “huruf” yang ada di depan nama kota yang dipilihnya, misalnya:
1.      Ibu kota Provinsi Jawa Tengah : (c)
2.      Ibu kota Provinsi Jawa Barat : (a)
·         Tipe pilihan Ganda
Tes pilihan ganda adalah tes di mana setiap butir soalnya memiliki jumlah alternatif jawaban lebih dari dua. Pada umumnya jumlah alternatif jawaban berkisar antara 3 (tiga) atau 5 (lima). Altenatif  jawaban tersebut tidak boleh terlalu banyak karena jika alternatif jawaban terlalu banyak akan membingungkan peserta tes, dan juga akan sangat menyulitkan penyusun butir soal. Tes tipe ini adalah yang paling popular dan banyak digunakan dalam kelompok tes objektif karena banyak sekali materi yang dicakup.
Contoh :
1.      Plat kendaraan bermotor dengan kode DK merupakan kode wilayah dari…
a.    Bali
b.   Medan
c.    Bengkulu
d.   Riau


Tes berdasarkan Fungsinya Sebagai Alat Pengukur Perkembangan/ Kemajuan Belajar Peserta Didik.
a)            Tes Seleksi
Tes seleksi sering dikenal dengan istilah “ujian ringan” atau “ujian masuk”. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon siswa baru, di mana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong paling baik dari sekian banyak calon yang mengikuti tes.Materi tes pada tes seleksi merupakan materi prasyarat untuk mengikuti program pendidikan yang akan diikuti oleh calon peserta didik. Isi materi terdiri atas butir-butir soal yang cukup sulit.

b)            Tes Awal.
Tes awal sering dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat dikuasai oleh para peserta didik. Jadi tes awal adalah tes yang dilaksanakan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik. Karena itu maka butir-butir soalnya dibuat yang mudah-mudah.

c)            Tes Akhir.
Tes akhir sering dikenal dengan post-test. Tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik.Isi materi tes akhir adalah bahan-bahan pelajaran yang tergolong penting.
    .
d)           Tes Diagnostik
Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk menentukan secara tepat , jenis kesukaran yang dihadapi oleh para peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu. Dengan diketahuinya jenis-jenis kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik itu maka lebih lanjut akan dapat dicarikan upaya berupa pengobatan yang tepat. Tes ini juga bertujuan ingin menemukan jawab atas pertanyaan “Apakah peserta didik sudah dapat menguasai pengetahuan yang merupakan dasar atau landasan untuk dapat menerima pengetahuan selanjutnya?”Materi tes diagnostik pada umumnya ditekankan pada bahan-bahan tertentu yang biasanya atau menurut pengalaman sulit dipahami peserta didik. Tes jenis ini dapat dilaksanakan dengan cara lisan, tertulis, perbuatan atau kombinasi dari ketiganya.

e)            Tes Formatif.
Tes formatif atau formative test adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah terbentuk” (sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. Tes formatif dilaksanakan pada pertengahan program pembelajaran, yaitu dilaksanakannya pada setiap kali satuan pelajaran atau subpokok bahasan terakhir. Perlu diketahui bahwa istilah “formatif” itu berasal dari kata “form” yang berarti “bentuk”.


f)             Tes Sumatif.
Tes sumatif adalah tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan. Di sekolah tes ini dikenal dengan istilah “Ulangan Umum” atau “EBTA” (Evaluasi Belajar Tahap Akhir), dimana hasilnya digunakan untuk mengisi rapor atau mengisi ijazah (STTB). Tes sumatif dilaksanakan secara tertulis, agar semua siswa memperoleh soal yang sama. Butir-butir soal yang dikemukakan dalam tes sumatif ini pada umumnya juga lebih sulit atau lebih berat daripada butir-butir soal tes formatif.Tujuan tes sumatif adalah untuk menentukan nilai yang melambangkan keberhasilan peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.


f.       Karakteristik tes yang baik
Suatu tes dapat dikatakan baik apabila memenuhi 5 persyaratan, yaitu: validitas, reliabilitas, objektivitas, praktibilitas,dan ekonomis.
1.      Validitas
Alat ukur dikatakan valid apabila alat ukur itu dapat dengan tepat mengukur apa yang hendak diukur.Dengan kata lain validitas berkaitan dengan “ketepatan” dengan alat ukur.Tes sebagai salah satu alat ukur hasil belajar dapat dikatakan valid apabila tes itu dapat tepat mengukur hasil belajar yang hendak diukur.
2.      Reliabilitas
Tes tersebut dapat dikatakan dipercaya (reliable) jika memberikan hasil yang tetap atau ajek (consistent) apabila diteskan berkali-kali.Jika kepada siswa diberikan tes yang sama yang pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (rangking) yang sama atau ajek dalam kelompoknya.
3.       Objektivitas
Objektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang mempengaruhinya. Lawan dari obktif adalah subjektif, artinya terdapat unsur pribadi yang masuk mempengaruhi. Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi, terutama dalam sistem skoringnya.
4.      Praktikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis,mudah pengadministrasiannya.Tes yang praktis adalah tes yang mudah dilaksanakan,mudah pemeriksaannya, dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk sehingga dapat diberikan orang lain.
5.      Ekonomis
Yang dimaksud dengan ekonomis di sini adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.


Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan penjelasan pada macam-macam dari tes, maka penulis dapat menyimpulkan :
1.      test adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian; testing berarti saat dilaksanakannya atau peristiwa berlangsungnya pengukuran dan penilaian;
2.      Teknik non tes: yaitu teknik evaluasi yang tidak menggunakan perangkat soal yang harus dikerjakan oleh siswa
3.      Diantara tugas guru dalam kegiatan pembelajaran adalah merencanakan kegiatan pembelajaran, melaksanakan dan menilai hasil belajar.


Saran
1.      Sebagai seorang guru ataupun pengajar hendaklah dalam membuat soal untuk siswa harus menganut pedoman tentang validitas , reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas, dan ekonomis.
2.      Kritik dan saran dasri pembaca sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah di kemudian hari.



http://www.slideshare.net/lestariajie/teknik-tes-dan-teknik-nontes-sebagai-alat-evaluasi-hasil-belajar


Tidak ada komentar:

Posting Komentar